RSS

Makalah Tentang Mikroskop

22 Apr

_________________________________________________________________________________

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini telah banyak ditemukan alat bantu untuk menyelesaikan permasalahan. Salah satu penemuan itu adalah mikroskop. Mikroskop merupakan salah satu alat penting dalam kegiatan biologi. Dengan menggunakan mikroskop kita dapat mengamati dengan jelas benda-benda yang sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang (kurang dari 0.1 mm), misalnya bagian-bagian dari sebuah sel. Keterampilan menggunakan mikroskop dapat membantu kita mengamati dan membandingkan struktur sel hewan denga sel tumbuhan. Kemahiran dan ketelitian sipemakai dalam menggunakan mikroskop sangat diperlukan. Hal dapat di dapat dicapai dengan mengenali baik-baik bagian-bagiannya, fungsinya, serta cara penggunaan dan pemulihannya. Semakin ahli kita dalam menggunakan mikroskop maka akan semakin baik pula hasil pengamatan mikroskopis yang kita lakukan dengan menggunakan mikroskop. Mikroskop sederhana yang biasa kita gunakan umumnya menggunakan cahaya dari alam atau juga dapat menggunakan cahaya lampu sebagai sumber cahaya pengganti matahari. Cahaya masuk kemudian dipantulkan dengan suatu cermin datar ataupun cekung, cermin inilah yang akan mengarakan cahaya dari luar kedalam mikroskop. Namun setiap mikroskop pada dasarnya terdiri atas bagian-bagian optik dan bagian-bagian merkanik. Dua nilai penting sebuah mikroskop ialah daya pembesaran dan penguraiannya, atau resolusi. Pembesaran mencerminkanberapa kali lebih besar objeknya terlihat dibandingkan ukuran sebenarnya. Daya urai merupakan ukuran kejelasan citra, yaitu jarak minimum dua titik yang dapat dipisahkan dan masih dapat dibedakan sebagai dua buah titik.

B. Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu agar kita sebagai mahasiswa terampil menggunakan mikroskop biologi dengan cepat dan aman untuk melihat sediaan sederhana.

C. Manfaat

Adapun manfaat dari percobaan ini yaitu agar mahasiswa, masyarakat dan umum dapat lebih mengenal tentang mikroskop dan mengetahui teknik penggunaan mikroskop yang benar.

_________________________________________________________________________________

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sejarah ditemukannya mikroskop sejalan dengan penelitian terhadap mikrobiologi. Yang memasuki masa keemasan saat berhasil mengamati jasad renik. Pada tahun 1664 Robert Hooke, menggambarkan struktur reproduksi dari moulds, tetapi orang pertama yang dapat melihat mikroorganisme adalah seorang pembuat mikroskop amatir berkebangsaan Jerman yaitu Antoni Van Leeuwenhoek (1632- 1723), menggunakan mikroskop dengan konstruksi yang sederhana. Dengan mikroskop tersebut dia dapat melihat organisme sekecil mikroorganisme (Kusnadi, 2003).

Kata mikroskop bersal dari bahasa Yunani yaitu micron yang artinya kecil dan scropos yang artinya melihat atau tujuan. Jadi dapat dikatakan bahwa mikroskop adalah alat untuk melihat obyek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Alat utama dalam mikroskop yang digunakan untuk mengamati adalah lensa objektif dan lensa okuler. Dalam mikroskop baik lensa objektif maupun lensa okuler keduanya merupakan lensa cembung. Secara garis besar lensa objektif menghasilkan suatu bayangan sementara yang mempunyai sifat semu, tebalik dan diperbesar terhadap posisi benda mula- mula (Anonim, 2010).

Dua nilai penting sebuah mikroskop adalah daya pembesaran dan penguraiannya, atau resolusi. Pembesaran mencerminkan berapa kali lebih besar objeknya terlihat dibandingkan dengan ukuran sebenarnya. Daya urai merupakan ukuran kejelasan citra; yaitu jarak minimum dua titik yang dapat dipisahkan dan masih dapat dibedakan sebagai dua titik berbeda dan terpisah (Campbell, 2000).

Mikroskop yang menggunakan cahaya disebut mikroskop optik. Mikroskop optik dapat dibedakanmenjadi mikroskop biologi atau monokuler dan mikroskop stereo atau binokuler. Mikroskop biologi digunakan untuk pengamatan benda tipis dan trans paran. Penyinaran diberikan dari bawah dengan sinar alam atau lampu. Mikroskop binokuler atau stereo digunakan un tuk pengamatan yang tidak terlalu besar, transparan atau tidak. Penyinaran dapat diatur dari atas maupun dari bawah dengan sinar alam atau lampu (Tim Pengajar, 2010).

Mikroskop yang biasa digunakan dalam laboratorium biologi adalah mikroskop monokuler (latin : mono = satu, oculus = mata). Kebanyakan objek yang akan diamati dengan menggunakan mikroskop monokuler ini harus memiliki ukuran yang kecil atau tipis sehingga dapat ditembus cahaya. Bentuk dan susunan objek tersebut dapat dibedakan karena beberapa bagian objek itu lebih banyak menyerap cahaya dari pada bagian-bagian yang lain. Mikroskop membuat benda-benda kecil kelihatan lebih besar dari pada wujud sebenarnya, hal ini disebut perbesaran. Mikroskop juga dapat membuat kita melihat pola-pola terperinci yang tidak tampak oleh mata telanjang, hal ini disebut penguraian (Goldsten, 2004).

Semakin tipis bahan yang diperiksa semakin jelas nahan yang diperoleh. Cahaya yang dipantulkan dari suatu titik objek tidak dapat direkombinasi kagi untuk membuat titik lain yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah piringan cahaya. Daya pembesaransebuah mikroskop, yaitu kemampuan untuk membeda- bedakan rincian halus, adalah sebanding dengan medium yang ditransmisi. Cahaya mempunyai panjang gelombang sekitar 0,5 mm dan daya pembesaran paling baik (meskipun menggunakan cahaya dengan gelombang paling pendek) adalah sekitar 0,45 mm obyek yang letaknya lebih dekat dari itu tidak akan diperbesar sebagai lebih dari satu objek (Abercombie, 1933).

Dibalik semua keunggulan dan kegunaannya, mikroskop juga memiliki kelemahan yaitu daya pisah, bukan daya pembesaran. Daya pisah adalah kemampuan untuk membedakan dua titik yang berdekatan sebagai titik yang jelas seta terpisah. Peningkatan ukuran tanpa disertai gambar yang jelas tidak berarti banyak bagi seorang yang menggunakan mikroskop. Ini berarti tidak ada gunanya mendapat gambar yang besar tetapi kabur (W. lay. 1992).

_________________________________________________________________________________

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini :

a. Waktu praktikum

Hari/tanggal : jumat, 19 Nopember 2010

Waktu : Pukul 01.30 sd.03.10 WITA

b. Tempat : Laboratorium Biologi lantai III Timur FMIPA UNM.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah yaitu :

1. Alat yang disediakan oleh laboratorium

a. Mikroskop biologi

b. Kotak peralatan, berisi :

1. Kaca benda

2. Kaca penutup

3. Cawan petri

4. Pinset

5. Pipet tangan

2. Alat yang disediakan oleh mahasiswa

a. Pisau silet baru

b. Kain planel baru

c. Lap katun

d. Buku gambar dan pensil

e. Tusuk gigi

2. Bahan

Adapun bahan dari percobaan ini yaitu :

1. Bahan yang disediakan oleh laboratorium

a. Air suling

b. Kertas saring atau kertas hisap

c. Kapas atau kapuk

2. Bahan yang disediakan oleh mahasiswa

a. Daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)

b. Daun waru (Hibiscus liliaceus)

c. Daun labu (Cucurbita moschata)

d. Bawang merah (Allium cepa)

C. Prosedur Kerja

1. Menyiapkan Mikroskop

a. Meletakkan mikroskop di atas meja kerja tepat dihapan.

b. Membersihkan badan mikroskop dengan kain panel. Jangan sekali-kali menggosok lensa dengan

kain.

c. Membuka kotak peralatan, keluarkan cawan petri yang berisi kaca benda dan kaca penutup.

Membersihkan kain benda dengan kain katun atau kertas saring.

d. Di atas meja kerja hanya ada mikroskop, kotak peralatan dengan isinya, buku penuntun dan catatan,

bahan-bahan untuk praktikum. Menyingkirkan yang lainnya pada tempat lain yang sudah disediakan.

2. Mengatur Masuknya Cahaya ke Dalam Tubus

2.1. Memperhatikan keadaan ruang praktikum, darimana arah datangnya cahaya yang lebih terang (dari

depan, kiri, atau kanan) kemudian mengarahkan cermin mikroskop ke sumber cahaya tersebut dan

membuka diafragma atau memutar lempeng pada posisi lubang sedang. Mengatur posisi mikroskop

yang memiliki kondensor mendekati meja sediaan dan menggunakan cermin datar. Untuk mikroskop

tanpa kondensor menggunakan cermin cekung.

2.2. Mengatur posisi revolver sehingga objektif paling pendek menghadap ke meja sediaan sampai

bunyi klik.

2.3. Menurunkan tubus sampai jarak ujung objektif dengan meja sediaan 5-10 mm atau tubus turun

maksimal.

2.4. Meneropong lewat okuler dengan mata kiri tanpa memicingkan mata kanan (perlu latihan) akan

nampak medan bundar putih (medan pandang). Jika terangnya tidak merata, maka kita menggerakkan

sedikit cermin sampai terangnya rata. Kalau terlalu silau, kita mempersempit diafragma atau lubang

pada lempeng. Jika medan pandang masih kabur berarti kurang cahaya yang masuk, maka kita

membuka diafragma, pasang lubang lebih besar pada lempeng.

2.5. Mikroskop siap dipakai mengamati sediaan.

3. Cara Mengatur Jarak Lensa dengan Sediaan

3.1. Memutar pengatur kasar atu makrometer ke arah empu jari, tubus turun, jarak objektif dengan meja

sediaan mengecil, kemudian sebaliknya. Apa yang terjadi? Mikroskop model lain yang tubusnya miring

atau tidak bisa naik turun, maka meja sediaan bergerak naik turun apabila memutar makrometer dan

mikrometer.

3.2. Memasang kaca benda yang berisi sediaan awetan di atas meja sediaan sedemikian rupa sehingga

bahan yang diamati berada di tengah lubang meja, menjepit kaca benda dengan sengkeling sehingga

tidak goyang.

3.3. Jarak objektif dengan kaca benda tidak lebih dari 10 mm. Jika jarak itu longgar, maka kita

memutar makrometer untuk menurunkan tubus sambil melihat dari samping ujung objektif mendekati

kaca benda sampai maksimum 5-10 mm.

3.4. Meneropong lewat okuler sambil tangan memutar makrometer menaikkan tubus perlahan-lahan.

Mengamati medan pandang sampai muncul bayangan, kalau tubus telah terangkat setengah putaran

makrometer belum juga muncul bayangan, berarti terlewatkan, maka kita mengulangi langkah 3.3

kembali, kalau sudah ada bayangan tapi masih kabur, maka kita meneropong terus sambil memutar

mikrometer naik atau turun sampai bayangan jelas garis atau batasan-batasannya.

3.5. Memeriksa perbesaran lansa okuler dan objektif dan perbesaran bayangan tersebut.

3.6. Mengeluarkan preparat yang telah diamati.

4. Membuat Preparat Sederhana

4.1. Mengambil kaca benda yang sudah dibersihkan kemudian dipegang serata mungkin.

4.2. Menetesi air jernih atau air suling satu tetes di tengah-tengah.

4.3. Mencabut satu serat kapas atau kapuk dengan pinset dan meletakkannya di tengah tetesan air.

Untuk bahan daun waru, daun labu, dan daun kembang sepatu menggunakan silet untuk mengambil

bagian epidermisnya, dan mengirisnya setipis mungkin. Sedangkan untuk bawang merah, kita

mengirisnya setipis mungkin setelah itu meletakkannya di preparat.

4.4. Tangan yang sebelah memegang kaca penutup antara antara empu jari dengan telunjuk dengan sisi

atau pinggir yang berlawanan.

4.5. Menyentuhkan sisi dengan kaca penutup pada kaca benda dekat tetesan air dengan kemiringan 45O

kemudian dilepaskan sehingga tepat menutupi tetesan air. Menyerap kelebihan air yang merembes di

tepi kaca dengan kertas saring.

4.6. Memasang preparat buatan pada meja sediaan dan mengamati seperti langkah 3.2, 3.3, 3.4, dan

3.5.

5. Mengganti Perbesaran

5.1. Apabila pengamatan sudah berhasil, 3.4 dan 3.5, bayangan yang nampak akan dibesarkan lagi dan

jangan menyentuh posisi preparat atau tubus.

5.2. Memutar sedemikian rupa sampai lensa objektif yang lebih panjang (kuat) tegak lurus pada meja

sediaan dan bunyi klik (periksa perbesaran)

5.3. Meneropong sambil memutar mikrometer sampai muncul bayangan yang lebih besar dari

bayangan yang diamati.

5.4. Jika gagal menemukan bayangan yang lebih besar, kita menaikkan tubus dengan memutar

makrometer berlawanan arah empu jari, memutar revolver kembali untuk menempatkan posisi lensa

objektif lemah (pendek) pada posisi semula tanpa mengubah posisi preparat kemudian mengulang lagi

langkah 3.3, 3.4, 3.5 lanjut ke 5.1, 5.2, 5.3, sampai berhasil.

5.5. Menaikkan tubus apabila akan mengamati bahan lain dan mengeluarkan preparat yang sudah

diamati kemudian membersihkan kaca benda dan kaca penutup.

5.6. Membuat sediaan baru sesuai langkah baru 4.1 sampai 4.6.

5.7. Pada akhir kegiatan yang menggunakan mikroskop, perhatikan hal-hal berikut :

i. Preparat tidak boleh tersimpan di atas meja sediaan tetapi kita harus mengeluarkannya.

ii. Membersihkan preparat basah dengan kertas saring atau lap katun (kaca benda + kaca penutup)

kemudian menyimpannya dalam cawan petri dan memasukkannya ke dalam kotak perlengkapan.

iii. Membersihkan badan mikroskop dengan kain panel, menurunkan tubus serendah mungkin.

iv. Menyimpan mikroskop ke dalam kotak mikroskop.

v. Membersihkan semua peralatan yang telah dipakai dengan lap katun dan disimpan dalam kotaknya.

vi. Menyimpan sendiri peralatan yang telah dibawa untuk kegiatan berikutnya.

vii. Membuang sisa bahan yang tidak digunakan lagi di tempat sampah yang tersedia.

_________________________________________________________________________________

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

- Mikroskop Biologi

Keterangan :

1. Okuler

2. Makrometer

3. Mikrometer

4. Lengan

5. Penggerak mekanik

6. Sumbu inklinasi

7. Pengatur kondenser

8. Kaki

9. Cermin

10. Diafragma

11. Kondenser

12. Meja sediaan

13. Sengkeling

14. Lensa objektif

15. Revolver

16. Tubus

a. Bawang merah (Allium cepa)

b. Daun Waru (Hibiscus liliaceus)

c. Daun Labu (Cucurbita maschata)

d. Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)

B. Pembahasan

Mikroskop adalah alat optik yang digunakan untuk mengamati benda-benda yang berukuran sangat

kecil. Mikroskop membuat benda-benda kecil kelihatan lebih dari pada wujud sebenarnya dan

mikroskop membuat kita melihat pola-pola terperinci yang tidak tampak oleh mata telanjang.

Mikroskop memiliki komponen-komponen dari kaca yang mudah rusak, berupa lensa-lensa dan

cermin. Makanya kita harus menghindarkan perlakuan yang dapat membuat benturan dengan

komponen tersebut.

Mikroskop mempunyai komponen-komponen pendukung seperti :

1. Kaki mikroskop, sebagai alas tempat tumpuan berdiri.

2. Tiang, tempat bersendi lengan mikroskop, atau pegangan dengan sumbu inklinasi.

3. Lengan atau pegangan mikroskop, yang dipegang bilamana diangkat.

4. Cermin, alat penangkap dan pamantul cahaya.

5. Pengatur kondensor, bila diputar akan menaikkan atau menurunkan kondensor.

6. Kondensor, lensa yang menghimpun berkas cahaya dari cermin masuk ke lubang meja sediaan.

7. Diafragma, alat yang dapat ditutup dan dibuka, pengatur banyaknya cahaya yang amasuk ke

kondensor.

8. Meja sediaan, tempat meletakkan kaca benda (objek glass).

9. Sengkeling, penjepit atau pengatur letak sediaan (objek glass).

10. Penggerak Mekanis, alat pengatur letak kaca benda pada meja.

11. Lubang meja sediaan, lubang di tengah-tengah meja sediaan tempat lewatnya cahaya dari

kondensor masuk ke objek glass terus ke lensa objektif.

12. Makrometer, pengatur kasar, alat penggerak tubus ke atas atau ke bawah secara kasar.

13. Mikrometer, pengatur halus, alat penggerak tubus ke atas atau ke bawah secara halus.

14. Tubus atau tabung okuler, pada ujung atasnya terdapat lensa okuler.

15. Revolver atau pemutar objektif, cakram tempat melekatnya lensa objektif berbagai ukuran.

16. Lensa objektif, yang berfungsi adalah yang menghadap tegak lurus pada meja sediaan, menerima

bayangan sediaan kemudian membesarkannya.

17. Lensa okuler, yang diintip oleh mata pengamat, menerima bayangan dari objektif dan

membesarkannya.

Pada percobaan ini kami hanya mengambil satu sampel bahan percobaan yaitu bawang merah (Allium

cepa), dan kami mengamati sampel tersebut dengan tiga macam perbesaran seperti yang terlihat pada

gambar. Dari gambar tersebut kita dapat melihat bahwa pada pembesaran lemah terlihat hanya bagian

kecil dari epidermis Allium cepa tersebut dan pola-pola epidermis Allium cepa masih kurang jelas

pemisahannya. Sedangkan pada pembesaran yang lebih kuat, kita bisa mengamati pola pemisahan yang

lebih jelas dan bagian-bagian dari epidermis Allium cepa tersebut terlihat lebih kompleks.

_________________________________________________________________________________

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Mikroskop merupakan alat bantu untuk melihat sesuatu yang berukuran sangat kecil (benda renik).

2. Mahasiswa mampu mengenali dan mengetahui bagian-bagian mikroskop biologi dan fungsinya

masing-masing, serta mampu dan terampil menggunakan mikroskop biologi tersebut dengan cepat dan aman untuk melihat sediaan sederhana

B. Saran

Adapun saran dari percobaan ini adalah :

1. Laboratorium: Sebaiknya alat-alat yang disediakan laboratorium diperhatikan, sehingga praktikan

tidak menggunakan alat yang kurang baik.

2. Asisten: Sebaiknya asisten tidak meninggalkan praktikan saat percobaan berlangsung.

3. Mahasiswa: Praktikum mikroskop ini harus diperhatikan dengan baik karena mikroskop sangat

penting dalam kegiatan biologi.

_________________________________________________________________________________

DAFTAR PUSTAKA

Abercombie, M. I993. Kamus Lengkap Biologi. Jakarta: Erlangga.

Anonim. 2010. Mikroskop. http://id.wikipedia.org/wiki/mikroskop. Diakses tanggal 19 Nopember 2010

Campbell, N.A. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarata: Erlangga.

Goldsten, Philip. 2004. Ilmu Pengetahuan Populer Jilid 10 Edisi 11. PT Ikrar Mandiri Abadi. Jakarta.

Kusnada. Dkk. 2003. Mikrobiologi. Bandung: Jica.

Tim Pengajar. 2010. Penuntun Praktikulum Biologi Dasar. Jurusan Biologi FMIPA UNM. Makassar.

W. Lay. 1992. Mikro biologi. Bogor: CV. Raja Wali

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on April 22, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: